Select Menu
Select Menu

Nasional

Nasional

Gambar tema oleh konradlew. Diberdayakan oleh Blogger.

Lensa Bicara

Ekonomi

Politik

Hukum

Budaya

Sosial

Nusantara

Olahraga



Ilustrasi
SUARA REVOLUSI.COM- Rasa persaudaraan yang tinggi  menjadi sifat baik warga kampung yang patut dipuji. Karenanya, ketika salah seorang diantaranya mengalami musibah sakit dan tengah dirawat inap di RSU Mataram, segera menunjukkan rasa empati dengan cara membezuknya.  Sore ini sekelompok warga berangkat membezuk dengan menggunakan kendaraan roda empat. Dalam rombongan ini terdapat seorang gadis cantik benama Rini. Gadis kampung ini tampak mengenakan pakaian terbagus dan bersolek cukup mencolok. Terkesan seperti hendak mau ke acara pesta.  Tak ada yang menduga kalau gadis ini sangat rindu pada sang pacar bernama Basri. Pemuda sekampung yang kini tengah kos di Mataram guna menuntut ilmu.  Ia berharap bisa bertemu di tempat perawatan Adi. Ya, siapa tahu ?  Bagi Rini, setiap kemungkinan selalu bisa terjadi. 

      Sekitar satu jam menempuh perjalanan dari Praya, mobil yang mengangkut rombongan Rini akhirnya tiba di RSU Mataram. Semua penumpang turun dan langsung meninggalkan kendaraan. Rini berada paling belakang namun masih jua berhenti sejenak dan melongok ke kaca spion mobil. Rupanya ia hendak memeriksa wajah. Ia tampak mengusap-usap pipinya yang montok. Seorang teman gadisnya, Sopiah, yang berada dua jurus di depan tiba-tiba berbalik, lantas dengan tingkah gemas menarik lengan Rini. “Entar ketinggalan. Mau diculik ?” sergah Sopiah sambil menggandeng Rini dengan langkah dipercepat, tak mau berjarak jauh dengan kelompoknya yang berada di depan.

      “Eh, gemana nih”, Rini menunjuk wajahnya yang tampak mulus agak mengkilat. Entah kenapa, tiba-tiba ia merasakan jantungnya berdegub kencang.
      “Usah kuatir. Tak ada yang membantah kecantikanmu”, puji Sopiah tanpa menengok. Mendengar ini, Rini tersenyum girang, membayangkan betapa senangnya Basri bila sesaat lagi benaran bertemu.
      Tiba di ruang perawatan yang sempit, tidak semua pembezuk bisa masuk. Mereka masuk secara bergiliran menyalami Adi yang tidur tergolek lemah. Di saat silih-berganti menyalami Adi, tampak seorang pemuda menyelinap keluar ruangan, begitu melihat Rini. Siapa lagi kalau bukan Basri, sang kekasih yang selama ini dirindukan Rini.

      “Aku sudah menduga kalo kamu akan datang membezuk”, sapa pemuda itu, amat girang.
      “Aku juga berharap kalo akan bertemu di sini. Karna kupikir sebagai teman, kau pasti ada di samping Adi. Lagi pula, tempat kosmu tak jauh, kan dari rumah sakit ini ?”, Rini mencoba menebak.  
      “Kau benar. Oke, kamu salami dulu Adi, baru kita pergi jalan-jalan, sementara yang lain tetap berada di sini”, Mendengar tawaran ini, Rini tampak tertarik. Ia pun melangkah menemui Adi sekedar menyalaminya.
      “Aku ada perlu sebentar di luar bersama Kak Basri”, berucap begini pada Sopiah, Rini tampak tak sabaran melangkah keluar menemui pacarnya itu. Keduanya lantas pergi.
      Melihat itu, Sopiah sempat merasa kalau tindakan pasangan kekasih, Basri dan Rini, sebagai gelagat tak baik. Ya, disaat membezuk teman yang tengah menderita sakit, bagaimana bisa tega memanfaatkannya buat bersenang-senang ? Keduanya memang dimaklumi sebagai sepasang kekasih. Tapi, Sopiah tetap menganggap hal itu sangat tak pantas. Itu sangat tidak etis. Tapi disisi lain, ia tak sanggup menegur Rini karena khawatir temannya itu salah tanggap. Khawatir ia dibilang iri ! Takut kalau gara-gara menegur bakalan merusak hubungan persahabatannya.  

       Mengendarai sepeda motor, Basri membonceng kekasihnya ke arah Jalan Udayana. Jalan sepanjang beberapa kilometer yang kiri-kanannya merupakan area kuliner lesehan makanan khas Sasak, Lombok. Buka setiap hari pada sore dan malam yang selalu ramai oleh pengunjung. Tempat kongko-kongko dan senda-gurau kaum muda-mudi. Si gadis kampung Rini merasa  senang bisa menikmati jajanan lupis, terbuat dari beras ketan yang kenyal dan lengket pada setiap gigitan. Pengalaman mengesankan karena disantap bersama sang  kekasih. 

      Sambil mmencicipi teh hangat, Basri memandang ke wajah pacarnya yang putih kemerahan. Lalu berucap mesra, “Mudahan saja ini bisa berlanjut sampai jenjang rumah-tangga esok.”
      “Aku bahkan membayangkan bisa membuat kue ini buat kusajikan bila telah berumah-tangga bersamamu”, sambil tersenyum Rini mengucapkan kata-kata   ini.
      “Ah, kalo saja kuliahku telah selesai, aku sudah tak sabar lagi ingin menggendongmu ke ranjang pengantin”, rayu Basri, membuat darah gadis itu berdesir hebat.
       “Kuharap kau bisa membuktikan kata-kata itu. Berapa lama sih, lulusnya ?”
      “Tinggal beberapa bulan saja kok, pokoknya jangan kuatir”, kata Basri sambil melirik jam tangannya.
      “Ayolah, kita kelamaan di sini, kasian mereka yang menunggu di rumah sakit”.
      “Oke”. Berucap begitu, Basri membayar pesanan yang telah disantap kemudian meninggalkan tempat itu.
      Setibanya di rumah sakit, keduanya buru-buru ke ruangan tempat Adi dirawat. Ternyata para pembezuk yang bersama Rini tadi sudah pulang. Terang saja membuat Basri panik. Bagaimana harus mempertanggungjawabkan keberadaan Rini ?
***
      Mengetahui putrinya tidak ikut pulang bersama rombongan, membuat Bu Ijah, ibunya Rini, menjadi kaget. Lebih kaget lagi, ketika Sopiah nyerocos saja pada orang-orang di kampung kalau Basri yang membawa Rini untuk diajak kawin.  Bu Ijah pada awalnya mencoba menerima keadaan ini. Namun, Bu Salmah, ibunya Basri, justru jadi berang. Ia sejak awal, selama Basri berhubungan cinta dengan Rini,  tak pernah memberi restu pada putranya. Menurutnya, Rini itu gadis kampung yang tak tamat SD. Ini tak sebanding dengan putranya yang sebentar lagi lulus perguruan tinggi, jadi sarjana . 

      “Pokoknya aku tak sudi, silakan jemput anakmu dan biarkan Basri melanjutkan kuliahnya !” kata Bu Salmah penuh emosi di depan Bu Ijah. Kedua ibu ini hidup bertetangga di Kampung.
      “Siapa suruh anakmu mau sama gadis tak sekolah ?!” jawab Bu Ijah tak kalah kalap.     Merasa  dihina di hadapan orang ramai, Bu Ijah tak kuat lagi menahan emosi. Rasanya ia mau menjambak rambut wanita tua yang banyak omong itu. Tapi, ia mencoba bersabar.  Dilihatnya satu per satu warga yang menonton pertengkaran ini. Ya, di situ seorang pemuda tanggung menampakkan wajah.

      “Udin !” Bu Ijah memanggil setengah berteriak. “Kamu segera berangkat cari adikmu dan bawa pulang,” pinta Bu Ijah. Mendengar itu, Udin tanpa pikir panjang untuk melaksanakan permintaan bibinya itu.  Ia ambil sepeda motor lalu meluncur ke Mataram.  

      “Sudahlah, jangan banyak bacot ! Sebentar juga anakku bakalan kembali ke rumah”, bentak Bu Ijah sambil masuk rumah,  membanting pintu. Ia tak ingin jadi tontonan warga sekampung.
     Mengenadari sepeda motor dengan kecepatan tinggi ditengah cuaca malam yang dingin, membuat tubuh Udin menggigil. Malam sudah mulai larut ketika tiba di Mataram. Tidak bertemu di tempat perawatan Adi, lantas Udin menemukan adik misannya, Rini, di tempat kos Basri. Terang-terangan Udin menunjukkan wajah kesal pada Basri yang menjadi biang kerok terjadinya keributan di kampung. Ia melihat Rini tengah menangis tersedu di kamar kos Basri tanpa kejelasan sikap Basri.

      “Kalian mau apa dengan cara begini ?” tanya Udin, melototi Basri.
      “Kami hendak kawin”, jawab Basri terdengar pelan, terkesan amat ragu.
      “Bagaimana itu bisa kamu lakukan, sementara ibumu mengomel tak setuju !”
      “Bawa aku pergi”, pinta Rini, tak suka kalau ibunya Basri tak merestui.

      Membayangkan ibunya yang sangat murka bila mengawini Rini, Basri tak berusaha mencegah, bahkan ia tampak pasrah ketika akhirnya Rini duduk di belakang Udin, mengangkangi sadel  sepeda motor. Rini bahkan pergi tanpa bersalaman, tidak pula berucap kata  barang sepatahpun. Hal yang membuat Basri jadi bengong.

      Sampai jauh malam, Udin yang ditunggu-tunggu dan diharapkan membawa Rini pulang tak menampakkan batang hidung. Tak pelak membuat Bu Salmah resah, khawatir kalau Basri nekat untuk kawin dan tak memberikan Udin membawa Rini pulang. Bu Ijah pun susahnya tak ketulungan karena memikirkan nasib putrinya yang semata wayang. Entah bagaimana ceritanya, ketika tiba-tiba terdengar kabar bahwa Udin yang mau mengawini Rini. Sontak terdengar tangisan hesteris Bu Ijah, memecah keheningan malam. Membuat warga kampung yang tadinya sudah tidur pulas menjadi bangun dan berkerumun lagi guna mencari tahu apa yang terjadi. Rupanya Bu Ijah tak mau terima kenyataan jika putrinya yang cantik harus dikawini oleh Udin. Pemuda berperawakan kurus agak lengkung dengan wajah jelek pula.

      Belakangan baru diketahui kalau Rinilah yang justru memaksa kakak misanya itu untuk kawin dengannya karena tak kuat menanggung rasa malu. Baginya, kawin dengan Udin, sekalipun tak saling mencintai, menjadi jawaban atas sikap Bu Salmah yang telah menolak dirinya sebagai menantu. Hal yang membuat Bu Ijah pasrah.  Karenanya, ketika tiba di Wilayah Praya, sepeda motor yang dikendarai Udin tidak membawa Rini ke Kampung kediamannya, melainkan berbelok arah menuju kampung lain, tempat tinggal salah satu keluarga dari Udin. Di situlah keduanya bermalam sampai keesokan pagi, saat harus memberi kabar bahwa keduanya siap melakukan pernikahan.
***

Penulis : H.Abdul Azim
Editor : Muhamad Saleh Alayubi


AKP Tauhid
SUARA REVOLUSI.COM- Atas kaburnya tawanan yang telah mangamankan dirinya Agus Efendi di Polsek Batukliang, Polres Lombok Tengah langsung mengambil sikap, dengan turun melakukan kroscek bersama Provos Polres Loteng ke Polsek Batukliang. Namun, pihak Polres Loteng yang langsung dipimpin kasat Reskrim Polres Loteng AKP Tauhid hanya turun sebatas ke Polsek saja. Sedangkan, pihak Polres belum melakukan pendalaman ke rumah korban.   

Kasat Reskrim Polres Lombok Tengah AKP Tauhid membenarkan, kalau pihaknya bersama Provos turun lakukan kroscek ke Polsek Batukliang. “Iya kami hanya sebatas baru turun ke internal Polres saja. Dan itupun atas intruksi langsung dari Kapolres,” katanya.
Sedangkan, untuk kerumah korban. Pihaknya akui belum turun ke sana. “Nanti kita panggil saja pihak korban caranya, untuk memberikan keterangan di Polres,” ujarnya.
Sedangkan, kalau memang terbukti ada kesalahan yang dilakukan oleh anggota Polsek sendiri, terhadap kasus tersebut. Maka kita akan berikan sangsi tegas. “Terlebih dahulu kita dalami dulu persoalan itu. Kalau sangsi tetap kita berikan, kalau memang nanti dalam gelar perkara ada yang terbukti bersalah,” tegasnya.
Sementara, terkait persoalan tebus menebus yang diduga dilakukan oleh oknum anggota Polsek. Itu tidak benar. Karena menurut informasi dari Polsek. Proses penebusan itu, dilakukan langsung oleh keluarga korban sendiri. “Memang dalam penebusan itu didampingi oleh anggota,” terangnya.

Diakuinya, memang saat itu sudah dilakukan mediasi dengan tempat digadainya motor tersebut. Namun, orang itu tidak mau memberitahu dimana tempat keberadaan motor tersebut. Sehingga, terjadi kesepakatan. Kalau motor itu sebaiknya ditebus. Setelah dilakukan itu, maka motornya pun kembali ke korban. “Tidak ada keterlibatan oknum anggota dalam persoalan tebus menebus itu. Itupun dilakukan oleh pihak keluarga koraban sendiri,” kilahnya. 

Sementara sebelumnya, keluarga korban Sony menceritakan, Agus Efendi, merupakan warga Ampenan. Namun, ikut tinggal bersama Bapaknya. Karena, menikah lagi dengan perempuan dusun setempat.
Setelah itu, karena lama bergaul dengan pemuda disana, Agus dianggap sebagai warga setempat akhirnya meminjam motor Suzuki jenis FU 150, milik Rustam Jayadi (ponakan red) sekitar bulan Januari 2015. Setelah pelaku meminjam motor tersebut, sampai seminggu. Pelaku tidak kunjung pulang ke Sade.

Akhirnya, ia bersama keluarga lainnya berinisiatif mencari tahu keberadaan Agus. Berbagai usaha terus dilakukan, sehingga mendapatkan informasi motor tersebut sudah digadai ke salah seorang warga Beremi Desa Kediri, Lombok Barat.
Atas ulah Agus, sehingga sony menyarankan Rustam melaporkan ke Polsek Batukliang. Dan akhirnya Rustam pun melapor ke Polsek Batukling atas dugaan penggelapan. Tak lama kemudian, aparat Polsek pun langsung memproses laporan itu sehingga Agus Efendi berhasil ditangkap sekitar tanggal 16 Februari 2015.
Pelaku berhasil ditangkap dan diamankan di Polsek Batukliang. 

Kendati demikian, sudah ditangani aparat dan pelaku sudah ditangkap. Motor FU yang diharapkan tak kunjung kembali. Malah, pemilik kendaraan, dimintakan uang untuk menebus motor FU tersebut oleh oknum polisi setempat beralasan sudah digadai di Dusun Beremi sebesar Rp 3,5 juta.
Tidak mau panjang lebar, ia pun mengeluarkan uang sebesar Rp 3,5 juta kesalah satu oknum polisi juga punya jabatan berinisial SB.

Ingin pelaku diproses sesuai aturan, setiap hari Sony dan keluarganya intens mengontrol sejauhmana proses hukum terhadap Agus. Tiba-tiba, Rabu 25 Februari kemarin, saat ia  mencoba mengkroscek sejauhmana proses hukumnya. Ternyata, Agus Efendi sudah tidak ada di tahanan alias melarikan diri tanpa sepengetahuan petugas. “Saya kecewa atas kinerja aparat Polsek Batukliang, yang jelas pelaku harus dihukum seberat-beratnya,” kesal masyarakat Dusun Sade kepada wartawan suara revolusi.com kemarin. (sr 03)


SUARA REVOLUSI.COM- Sebanyak 24 senpi rakitan diamankan Polsek Kota Praya. Dari puluhan senpi rakitan itu, yang masuk zona merah adalah wilayah Desa Jago Kecamatan Praya. Karena, sebanyak 18 unit diamankan di wilayah itu. Sedangkan yang lainnya, hanya ditemukan beberapa unit saja. Seperti, Kelurahan Tiwu Galih sebanyak 4 unit, Praya 1 unit dan Desa Mekar Sari 1 unit. “Semua yang diamankan itu, berasal dari 26 masyarakat,” kata Kapolsek Kota Praya AKP Made Kartana kepada wartawan revolusi.com di kantor DPRD Loteng.

Ia prediksikan, masih banyak senpi rakitan yang dimiliki oleh masyarakat. Tapi, untungnya senpi rakitan yang diamankan itu. Merupakan, kesadaran masyarakat. karena, masyarakat yang menyerahkan langsung melalui Kadusnya, dilanjutkan ke Babinkamtibmas dan diserahkan ke Polsek. “Kalau ada yang merasa memiliki senpi rakitan, agar diserahkan secepatnya,” tegasnya.

Karena, kalau sudah melewati tanggal 3 Maret, maka masyarakat yang masih memiliki senpi akan diproses secara hukum. Untuk itulah, ia menghimbau, masyarakat agar mau menyerahkan senpi rakitannya. Sebelum batas waktu yang telah ditetapkan. “Kalau tidak menyerahkan, maka akan dikenakan dengan undang-undang Darurat 61,” katanya.
Sejauh ini, kita juga sedang melakukan penulusaran. Dimana, sebenarnya bengkel pembuatan senpi rakitan itu. Memang, sebagian ada masyarakat yang bisa membuat sendiri. Tapi, sebagian besar masyarakat membelinya. Untuk itulah, kita masih telusuri dimana sebenarnya bengkel pembuatan senpi rakitan tersebut. “Informasi memang di buat di wilayah Lobar. Apalagi, senpi rakitan ini, pertama kali di temukan oleh Polres Lobar,” jelasnya. 

Sementara, upaya pencegahan terhadap senpi rakitan, Polres Loteng terus lakukan sosialisasi ke masyarakat. Tidak hanya itu, berbagai himbaun seperti pamphlet dipasang dimana-mana. “Kita selalu lakukan sosialisasi ke masyarakat. Agar masyarakat sadar dan mau menyerahkan senpi rakitan yang dipunyanya,” pungkasnya. (sr 03)


SUARA REVOLUSI.COM-Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dari Provinsi drh. Erwin dan Kepala Bidang Perlintan dan Keswan Dinas Pertanian dan Peternakan Lombok Tengah (Loteng) Widiarta diperiksa Kejaksaan Negeri Praya. Pemeriksaan itu, terkait kasus proyek Rumah Potong Hewan (RPH) di Dusun Barebali I Desa Barebali Kecamatan Batukliang.
Selain itu, proyek yang menelan anggaran Rp 1,4 milar yang dikerjakan CV Anggita itu, terindikasi ada kerugian Negara, setelah dilakukan kajian teknis oleh Dinas PU Lombok Tengah. 

Kasi Pidsus Kejari Praya AA Raka Putra Dharmana mengakui, kalau hari ini (Kamis red) dilakukan pemeriksaan terhadap PPK dan Kabid Perlintan dan Keswan Loteng selaku ketua tim teknis dari kabupaten. “Pemeriksaan ini dalam rangka pemberian saksi,” katanya.

Kemudian, untuk besok (hari ini red) akan dilakukan pemeriksaan terhadap konsultan pengawas. Sedangkan hari senin, akan dilakukan pemeriksaan untuk kontraktor (rekanan) dan pelaksana teknis dari Dinas PU Provinsi. “Kalau semuanya sudah dilakukan pemeriksaan, mak kita akan gelar ekspose. Apakah kasus itu akan dinaikkan ke tahap penyidikan atau tidak,” ujarnya.

Namun, sementara ini lanjutnya, sudah ada temuan indikasi kerugian negaranya. Karena ada beberapa item yang ditemukan dikerjakan seadanya dan belum ada alatnya. Seperti pengecetan yang tidak sempurna. “Yang paling patalnya, yakni di IPAL. Karena, alat IPAL pembuangan darah tidak ada. Hanya saja, cesingnya yang dipasang, sedangkan alatnya tidak ada,” terangnya.

Sehingga, IPAL yang di gunakan dalam proyek RPH itu seolah-olah seperti pembuangan biasa. “Temuan indikasi itu, dihitung oleh Dinas PU mulai tanggal 14 Februari. Seandainya nanti ada, tetap akan menjadi temuan,” tandasnya.

Disamping itu, proyek tersebut sudah di PHO tanggal 16 Desember. Namun, dari hasil kroscek, ada beberapa yang belum diselesaikan dalam pengerjaanya. “Paling anehnya juga dana retensinya (pemeliharaan) sudah keluar,” katanya.

Atas persoalan itu, maka telah melibatkan pihak Dinas Kabupaten. Padahal, semua itu dikerjakan oleh Dinas Peternakan Provinsi. “Semuan ini gara-gara provinsi,” tandas Kepala Bidang Perlintan dan Keswan Dinas Pertanian dan Peternakan Lombok Tengah (Loteng) Widiarta saat keluar dari ruangan kasi Pidsus.
Namun, sebelumnya ia menyangkal, tidak tahu berapa nilai proyek dan siapa pihak yang mengerjakan. “Itu proyek dikelola langsung dari Provinisi dek. Kalau selebihnya saya tidak tahu,” pungkasnya.

Selain itu, diketahui selama ini pihak provinsi belum ada koordinasi dengan kita. Bahkan, rekomdasi yang dilayangkan juga tidak ada. Sehingga, terkait dengan proyek RPH itu kita tidak tahu sama sekali siapa yang mengerjakannya dan berapa nilai anggarannya. “Kita disini hanya ketepatan tempat saja. Kalau semua itu, urusan Provinsi. Dan kalau mau lebih jelasnya, silahkan ke tanya ke provinsi,” katanya.

Dijelaskannya, kronoligis proyek RPH itu bisa dibangun. Karena, tahun 2013 lalu dinas telah mengajukan proposal. Sehingga, tahun 2014 proposal yang diajukan itu, akhirnya terjawab. Oleh sebab itulah, RPH itu dibangun. Tidak hanya itu, seiring dengan dijawabnya proposal itu. Dinas juga kesulitan menentukan lokasi RPH. Atas pertimbangan dan persetujuan pejabat Pemkab dan Bupati. Akhirnya RPH itu ditentukan lokasinya di Barebali. “Kami juga tidak hanya satu dua kali ajukan proposal. Melainkan sudah tidak terhingga berapa kali kami ajukan proposan ke pusat. Dan tahun 2014 itulah pembangun RPH terjawab dan dibangun di Loteng,” pungkasnya.(sr 03)