Select Menu

Mandalika Lombok Travel

Select Menu

Nasional

Gambar tema oleh konradlew. Diberdayakan oleh Blogger.

Lensa Bicara

Ekonomi

Politik

Hukum

Budaya

Sosial

Nusantara

Olahraga

» » LEGENDA PUTRI MANDALIKE: Pesan Yang Tak Sampai


suara revolusi 10.19.00 0

Patung Putri Mandalika
Penulis oleh : H. Abdul Azim
SUARA REVOLUSI.COM-       Persis seperti tahun-tahun sebelumnya. Hari-hari ini, sampai pada hari  penyelenggaraan gawe besar, Core Event Bau Nyale, masyarakat Suku Sasak Lombok kembali bergembira-ria dalam berbagai kegiatan bergenre budaya, seperti pawai budaya yang dimeriahkan oleh kesenian gendang beleq, cilokak, jaran kanput dan lain-lain. Tak kalah menarik, adu ketangkasan dan keberanian di ajang presean  yang berlangsung selama beberapa hari sebelum hari “H”.  Ekspresi luapan kegembiraan itu menjadi daya tarik tersendiri ketika melihat  tumpah-ruah keramain semua golongan masyarakat pada puncak penyelenggaraan Core Event Bau Nyale di Pantai Kute Lombok. Membuktikan kalau  Core Event Bau Nyale menjadi destinasi wisata budaya paling menarik di daerah berjuluk Pulau Seribu Masjid ini.
      Meski hanya sebuah legenda, Putri Mandalike dinilai telah mngenalkan konsep nilai cinta, keadilan dan perdamaian. Sebuah konsep nilai amat berharga yang berani ia bayar dengan nyawa. Ini dibuktikan ketika Putri Mandalike memilih mati atas nama nilai tersebut. Sungguh harga termahal yang harus ia bayar ketika menolak lamaran beberapa pangeran ketika melamarnya untuk dipersunting menjadi permaisuri. Betapapun ini pilihan terberat, namun sangat bijak karena telah mencegah terjadinya konplik yang dapat memicu terjadinya perang dan pertumpahaan darah antar para pangeran dan masyarakat pengikutnya kala itu.
      Konsep nilai tersebut menjadi amat berharga dalam konteks membangun sebuah peradaban manusia. Inilah pesan moral dari Legenda Putri Mandalike. Menjadikan ia seolah jelmaan ratu keadilan dan simbul perdamaian sekaligus simbul cinta. Pandangan inilah yang kemudian melahirkan mitos terhadap Putri Mandalike selaku tokoh imajiner yang sangat dikagumi dan menjadi pujaan hati bagi masyarakat Suku Sasak Lombok. Dikatakan tokoh imajiner karena sosok Putri Mandalike tak pernah ada di dunia nyata. Kalau hendak mencari tempat bersemayamnya, maka temuilah ia di relung hayal kita; ruang alam mitis masyarakat Suku Sasak Lombok. Selebihnya, ia adalah fakta sebuah mahluk berwujud cacing laut yang dapat dijumpai di beberapa tempat lainnya selain di pantai Kute Seger. Bahwa karena enak dimakan dan mengandung gizi tinggi, pastinya menjadi alasan lain mengapa ia diperebutkan ribuan orang dalam waktu bersamaan, sejak fajar menyingsing hingga terbit matahari.
       Nilai pesan moral tersebut, menjadikan Putri Mnadalike berbeda dengan tokoh imajiner lain. Sebutlah, Ratu Nyiroro Kidul yang (dalam sisi lain) berkonotasi jahat dan menakutkan. Buktinya ? Ada sebuah mitis, bahwa, bila hendak mengunjungi pantai Parangkritis (pantai selatan Jawa Tengah) Anda disarankan untuk tidak mengenakan baju berwarna merah. Konon, menurut kepercayaan segolongan masyarakat tertentu, hal itu dapat mengundang petaka karena bakalan jadi korban keganasan sang ratu. Guna menyenangkan hati sang ratu, golongan tertentu masyarakat Jawa, kerap melakukan acara ritual adat tolak balak berupa “labuh sesajen persembahan” di laut selatan Jawa, dimana sang ratu bersemayam. Lebih aneh lagi, percaya atau tidak, konon salah satu hotel ternama di Jogyakarta malah menyediakan kamar khusus bagi Ratu Nyiroro Kidul. Wujud keberadaan sang ratu di kamar tesrebut ditandai dengan pajangan lukisan Ratu Nyiroro Kidul. Tak hanya ini, pihak manajemen hotel juga menyediakan sesaji berikut rupa-rupa bahan ritual mistik, seperti bunga rampai, kemenyan dan lain-lain. Betapa ritual ini suatu bentuk laku halusinasi atas kehadiran sang ratu dalam kehidupan nyata. Sungguhpun perilaku tersebut memiliki tempat tersendiri dalam konteks budaya, namun dalam pandangan Islam hal tersebut tergolong perbuatan sesat (syirik).               
      Berbeda dengan sikap kita terhadap tokoh imajiner Putri Mandalike. Sosoknya tak pernah dianggap (dihalusinasi) ada  dalam dunia nyata. Namun,  yang dihidupkan justru pesan moral yang amat mulia, yakni konsep keadilan yang mengedepankan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi, juga konsep cinta yang mengutamakan persaudaraan dan perdamaian daripada permusuhan dan pertumpahan darah antar sesama. Kontribusi spirit dan pesan moral inilah yang membuat Putri Mandalike layak menjadi pujaan hati masyarakat Suku Sasak. Kecintaan ini kemudian diekspresikan dalam berbagai wujud laku kolektif. Terlihat dengan menggunakan Mandalike menjadi nama dari berbagai prasarana strategis publik. Sebutlah, Terminal Mandalike Mataram, Jalan Mandalike Praya, Gang Mandalike, Radio Mandalike FM Lombok dan Koran Radar Mandalike Praya. Megaproyek kawasan wisata Kute juga bernama Mandalike Resort. Keberadaan patung biorama Putri Mandalike yang tadinya berdiri di gerbang Kota Praya dan kini  berpindah ke Pantai Seger Kute, kian memperkuat kesan kalau sang Legenda Putri Mandalike telah menjadi bagian (maskot) masyarakat Suku Sasak Lombok.
      Ekspresi kecintaan itu mencapai puncaknya ketika kita melangsungkan pesta adat Bau Nyale yang dipasilitasi oleh pemerintah dengan melibatkan EO (Event Organition) selaku penyelenggara kegiatan. Ini benar-benar sebuah ekspresi kecintaan yang  tumpah-ruah dalam rupa-rupa wujud laku dari ribuan pengunjung yang semuanya bertujuan untuk bersenang-senang. Di sini setiap orang atau kelompok, tampak saling membaur tanpa dibatasi oleh skat-skat status social. Dahulunya, pesta adat Bau Nyale mungkin pada mulanya hanya berlangsung secara sederhana. Acara yang mungkin hanya menjadi ajang silaturrahmi, ajang kongko-kongko kaum muda-mudi dan para tetua leluhur kita dari semua kalangan. Momentum event seperti ini, menurut kalangan sosiolog, secara ekstrim menyebutnya sebagai sebuah cara kalangan rakyat kecil menikmati kemiskinannya.  Maksudnya, event ini dapat membuat mereka larut dalam suasana kegembiraan yang membuatnya bisa tertawa, bersenda-gurau, bernyanyi-nyanyi, betandak (berbalas pantun), belawas (nembang) dan tentu saja sambil makan-makan (takilan). Ini benar-benar sebuah ajang bersenang-senang bagi rakyat kecil. Dengan begitu, sejenak mereka dapat melupakan kesusahannya, melupakan utangnya dan melupakan segenap beban hidup yang selama ini mendera hidupnya.
      Dipihak lain, menyadari kalau obyek wisata budaya ini dapat dijual, lantas dieksplorasi sedemikian rupa, ibarat gadis kampung yang dipersolek tampilannya kayak gadis kota. Setidaknya ini tampak pada perubahan nama acara yang sebelumnya kita kenal dengan bau nyale, kini berubah menjadi Core Event Bau Nyale. Terakhir, berubah jadi Pestival Putri Mandalike. Kedengarannya memang kren. Terlebih, acara-acara yang disuguhkan sebagiannya berupa seni musik modern, seperti grup band, baik dari kalangan artis local maupun artis papan atas Ibu Kota. Suguhan model begini, pastinya memberi kesan glamour dan menciptakan suasana hingar-bingar pada setiap penyelenggaraan  pesta adat bau nyale ini.
     Upaya eksplorasi itu tampaknya sukses. Terbukti, event budaya ini mampu dibuat menjadi magnet besar untuk menarik puluhan ribu pengunjung. Dengan sendirinya pula ada multi player effect (dampak ke berbgai sektor secara bersamaan) yang dibangun oleh event budaya ini. Sebutlah, keuntungan bagi pedagang warung nasi, pedagang asongan dan pedagang kaki lima lainnya. Terlebih bagi para pelaku bisnis besar pariwisata, seperti perhotelan dan transportasi yang pasti panen besar. Adanya berkah besar bagi khalayak, tentunya menjadi alasan tersendiri bagi kita untuk terus melestarikan tradisi satu ini.
      Baiklah, penyelenggaraan pesta adat ini Anda akui telah mencapai tujuannya. Ini bila dilihat dari aspek keuntungan materi yang berhasil diraup oleh banyak pihak. Anda tentu berbangga hati karenanya.  Sayangnya, muatan pesan moral yang menjadi misi penting dari Legenda Putri Mandalike tak pernah sampai kepada laku adat masyarakat Suku Sasak.   Bahwasanya, ketika hendak mempersunting Putri Mandalike, beberapa pangeran melakoni adat prosesi meminang dan melamar. Ini sesuai benar dengan agama anutan mayoritas masyarakat Suku Sasak. Ini bahkan menjadi titik klimaks pentas drama Putri Mandalike yang berakhir tragis, dimana sang putri menjawab lamaran para pangeran dengan cara menceburkan diri ke laut yang kemudian menjelma menjadi cacing yang serta-merta diperebutkan oleh para pangeran bersama masyarakat pengikutnya kala itu.  Hasil tangkapan kemudian dinikmati bersama, sehingga keadaan yang semula saling bermusuhan, seketika berubah menjadi pesta-pora yang mendatangkan kegembiraan dan perdamaian serta keakraban antar semua pihak.
      Maka, ketika kita menyaksikan drama Putri Mandalike, mungkin baru menyadari kalau Legenda Putri Mandalike hanyalah sebuah cerita dan tontonan belaka karena tidak menjadi akar budaya masyarakat Suku Sasak. Bahwa prosesi melamar yang menjadi teladan Putri Mandalike ternyata tidak menjadikannya pelajaran berharga dalam praktek budaya perkawinan setelah kita lebih memilih cara kawin lari.  Itu artinya, pesan moral yang hendak disampaikan oleh Legenda Putri Mandalike tak pernah sampai. Jika bukan berakar dari Legenda Putri Mandalike yang amat sejalan dengan ajaran agama kita, lantas dimana adat kawin lari berpijak ? Wallohu a’lam.*** 


Editor : Muh Daffa Zaidan

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar

Leave a Reply