Select Menu
Select Menu

Nasional

Nasional

Gambar tema oleh konradlew. Diberdayakan oleh Blogger.

Lensa Bicara

Ekonomi

Politik

Hukum

Budaya

Sosial

Nusantara

Olahraga


SUARAAREVOLUSI-TGKH. M. Zainuddin Abdul Majid merupakan salah satu ulama kharismatik yang sangat berpengaruh yang dimiliki oleh  NTB. Pendiri organisasi tersebar di NTB Nahdatul Wathan (NW) mempunyai kontribusi besar dalam membangun NTB. Dukungan dari semua elemen masyarakat NTB untuk mendaulat TGKH. M. Zainuddin Abdul Majid menjadi pahlawan nasional sangat massive. Beberapa hari lagi tepatnya tanggal 10 november 2017 atau bertepatan dengan hari pahlawan nasional akan diumumkan oleh presiden Jokowi apakah TGKH. M. Zainuddin Abdul Majid sebagai pahlawan nasional. Dukungan dari berbagai  tokoh nasional bahkan wakil presiden Jusuf kalla saat seminar tentang kepahlawanan seorang TGKH. M. Zainuddin Abdul Majid di UNJ beberapa bulan lalu untuk ditetapkan menjadi pahlawan nasional.


Dukungan datang juga dari Ketua Pengurus Wilayah  Keluarga Alumni Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia PW KA KAMMI  NTB.  Menurut ketua PW KA KAMMI NTB Abdul Hayyi Zakaria,S.Pd TGKH. M. Zainuddin Abdul Majid sangat layak dijadikan  pahlawan nasional karena perjuangan beliau dari tahun 1940-1997 merupakan inspirasi seorang gubernur dua periode Dr. Zainul Majdi dalam membangun NTB. Perjuangan TGKH. M. Zainuddin Abdul Majid lewat syiar agama dan lembaga pendidikan seperti pendirian ribuan pesantren, madrasah, sampai dengan universitas. TGKH. M. Zainuddin Abdul Majid menjadi tauladan masyarakat NTB.

Hayyi sapaan akrabnya juga menambahkan nama bandara yang ada di Lombok harus diusulkan menggunakan nama  TGKH. M. Zainuddin Abdul Majid kalau terpilih menjadi salah satu pahlawan nasional 10 november mendatang. Nama TGKH. M. Zainuddin Abdul Majid dijadikan nama bandara sebagai reward dan juga sebagai wujud masyarakat NTB mencintai dan mentauladani kehidupan dan perjuangan beliau. Lihat saja nama bandara di daerah lain, pasti nama pahlawannya yang dimunculkan,  provinsi tetangga contohnya Ngurah Rai nama bandara di Bali tuturnya.(SR01)

SUARAREVOLUSI-Acara talk show yang menghadirkan artis muda penghapal Al-Qur’an yang lagi naik daun Hamas Syahid sang pemeran utama film Duka Sedalam Cinta dan Ketika Mas Gagah Pergi dan juga pemeran film the power of Love film 212 serta ibundanya Hamas mengundang kaum hawa memadati Islamic Center Hubbul Wathan Mataram sabtu 28 oktober 2017.  Acara talk show yang di moderatori oleh kak Wawan dongeng semakin semarak dan  mengasikkan dengan candaan khasnya saat mendongeng.

Moderator langsung bertanya kepada sang ibu dari Hamas yaitu ustadzah Yulyani bagaimana mendidik anak sehingga Hamas seperti sekarang tanya moderator. Ustadzah Yulyani dengan panjang menguraikan bahwa mendidik anak membutuhkan proses yang panjang. Ilmu mendidik anak tidak cukup hanya mengikuti seminar atau talk show saja akan tetapi melalui kebiasaan yang mendidik. Ketika anak kita malas belajar, malas sholat dan malas lainnya, saya selalu bertanya pada diri sendiri, dosa apa yang pernah saya perbuat sehingga anak saya seperti ini.

Anak pada dasarnya tidak ada yang malas akan tetapi orang tua yang tidak sabaran dalam mendidik anaknya. Waktu Hamas kecil, Hamas tidak pernah menangis karena intropek sehingga saya terus bicara dan bicara. Wanita harus banyak bicara melalui mendoeng, kebanyakan anak suka dengar cerita sehingga seorang ibu harus rajin membaca. Di rumah, saya mempunyai 5 ribu buku untuk dibaca. Sebelum ada internet seperti saat ini,dulu saya mencari majalah yang ada tokoh-tokoh  inspirator muslim yang saya gunting dan saya buatkan album, sehingga anak-anak sudah terbiasa melihat gambar tokoh muslim yang menjadi panutannya. Saat Hamas ditanya ibunya tokoh muslim yang menjadi idolanya ia menyebutkan Halid Bin Walid. Sejak kecil saya tanamkan suka pada pelajaran Matematika melalui membuat 100 lingkaran di suruh menghitung perlahan-lahan dan menjadi terbiasa.

Moderator langsung menyela dengan menyebut buah apel tidak akan jatuh jauh dari pohonnya. Giliran Hamas menceritakan kehidupanya. Dari kecil saya sudah dekat dengan Al-Qu’an pada umur 6 bulan sudah diperkenalkan dengan Al-Qur’an melalui disekeliling rumah atau ditembok ada hurup hijjayyah. Alhamdulillah karena doa ibu, saya bisa begini seperti sekarang, saya merasakan doa orang tua itu. Sejak kecil orang tua mengajarkan saya jaga jarak dengan bukan mahrom. Saat ditanya menjadi artis ibu kota kan susah menjaga pergaulan apa lagi jaga jarak dengan teman perempuan pegang tangan atau lainnya. Iya memang agak kaku teman-teman saat pertama-tama kenal tidak mau salaman bersentuhan tangan akan tetapi lama-kelamaan teman-teman artis juga paham dan mau belajar mengenal islam secara kaffah. Cintai itu tidak harus ditunjukkan dengan sentuhan. Saat ditanya tips supaya istikomah dalam hijrah Hamas menjawab kunci istikomah hijrah adalah dekat dengan Al-Qur’an. Selesai tanya jawab dan donasi untuk rohingnya acara ditutup.(SR01)  
TGH. Ruslan Gunawan,LC
SUARAREVOLUSI-Di acara talk show yang menghadirkan pemeran utama film Duka Sedalam Cinta dan Ketika Mas Gagah Pergi Hamas Syahid di IC Mataram Sabtu 28 oktober 2017 memberikan suasana yang adem dan hangat dengan lantunan ayat suci Al-Quran yang dibacakan oleh salah satu panitia dalam acara pembukaan. Tidak kalah serunya doa yang sangat menggetarkan hati yang dipimpin oleh Tuan Guru Ruslan Gunawan,LC pimpinan pondok pesantren Dhiaul Fikri Islamic boarding school Lombok Timur.

Isi doa yang sangat menyentuh dan mengkritisi problema Indonesia hari ini dan juga bertepatan dengan hari sumpah pemuda 28 oktober. Dengan suara lantang halusnya  TGH. Ruslan Gunawan,L.C  berdoa. Ini petikan doanya Umar bin Khatab menangis memikirkan rakyatnya akan tetapi hari ini rakyat menangis memikirkan pemimpinnnya. Ya Allah berikanlah kami pemimpin yang amanah bukan pemimpin yang suka berbohong dan janji palsu.(SR01

SUARAREVOLUSI-Acara talk show mengusung tema Hijrah tanpa tapi tanpa nanti yang dihadiri sederat artis ibu kota menjadi magnet bagi para kaum muda mudi Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk hadir pada acara talk show yang memberikan inspirasi dan motivasi dari pemeran film the power of Love Film 212 dan film Duka Sedalam Cinta bersama Hamas Syahid dan Ibundanya. Talk show yang di mulai sekitar pukul 9:00 pagi sudah ramai dengan kaum hawa di IC Hubbul Wathan Mataram sabtu 28 oktober 2017.


Menurut ketua panitia ustadzah Hety Kurniawti acara talk show ini dirangkaikan  dengan beragai macam acara seperti tadi malam acara di pendopo Walikota Mataram dalam acara Dinner and Charity Night bersama Walikota Mataram dan juga nonton bareng film Duka Sedalam Cinta di bioskop LCC Mataram Jam dua siang setelah selesai acara talk show ini sebutnya. Lebih lanjut ketua panitia menyebutkan acara ini terselenggara atas kerjasama dari berbagai pihak dan sponsor. Semoga acara talk show dan nonton bareng nanti  anak muda mudi NTB mendapatkan inspirasi dalam melijitkan potensi diri untuk hijrah menjadi manusia yang lebih berguna dan bermanfaat. Lebih lanjut ketua panitia film ini menjadi tontonan baik dalam mempengaruhi generasi muda mudi NTB yang lebih baik lagi harapnya.

Pada acara pembukaan talk show hadir  juga assiten 1 walikota Mataram untuk membuka acara talk show dalam hal ini untuk mewakili wali kota Mataram sebagai tuan rumah tempat talk show. Dalam sambutanya  ia mengatakan sangat mengapresiasi acara yang menghadirkan pemain film yang hafizd Al-Quran, ia juga mengharapkan semoga acara ini bisa menularkan virus-virus kebaikannya melalui film yang mendidik dan berqualitas. (SR01)

SUARAREVOLUSI-Program DASI NTB cabang Lombok Tengah desember 2017 yang bertepatan dengan rabiul awal 1439 H  atau bulan Maulid mengadakan khitanan ceria nusantara dengan lokasi program NTB, Bali, NTT, Papua, Maluku, Sulawesi, Kalimantan, Sumatra dan Jawa. Khitanan ceria nusantara menargetkan 2000 anak yatim, miskin, dan dhuafa untuk menerima manfaat program. Bagaimana cara berpartisipasi dalam program ini dengan hanya menjadi orang tua asuh minimal satu orang anak. Doanasi satu anak hanya Rp.500.000,-termasuk bea medis, obat-obatan, bingkisan,laporan ke donatur dan operasional. Mari berlomba dalam kebaikan karena hanya kebaikan akan menemani kita diakhir kelak.  Donasi bisa langsung ke kantor DASI Loteng Jalan Untung Seropati no. 31 kampung Jawa Praya. CP 085339957129. (SR)
Hamas dan TGH. Ruslan Gunawan,LC
 


SUARAREVOLUSI-Siapa yang tidak kenal dengan artis Hamas Syahid Izzudin sang pemeran film Ketika Mas Gagah Pergi. Hamas yang masih muda, tampan serta penghapal Al-Quran  yang memerankan film bergenre islami. Anak muda kekinian pasti mengenal Hamas khususnya bagi para  akwat (perempuan). Tidak tanggung-tanggung langsung dari ibu kota Jakarta mengujungi Dhiual Fikri Islamic Boarding School pimpinan Tuan Guru Ruslan Gunawan,LC kamis 26 oktober 2017.

Hamas dan tim saat berkunjung kesana, sambutan hangat dan meriah menjadi pemandangan yang tidak bisa di bendung oleh semua santri-santri Dhiaul Fikri. Menurut Tuan Guru Ruslan Gunawan,LC suatu kehormatan yang luar biasa bisa dikunjungi oleh artis sholeh mempunyai hafalan Qur’an bagus dan juga saat ini menjadi panutan kaum muda mudi muslim. Daqwah pada era milenial ini harus menggarap semua dimensi termasuk dunia seni dan perfileman. Daqwah melalui filem saat ini lebih mengena langsung bagi penonton yang meyaksikannya. (SR01)
SEBELUM OPRASI 

SETELAH OPRASI 
SUARAREVOLUSI-Nasib malang menimpa bocah sepuluh tahun Abdul Hanam yang menderita penyakit kanker kulit sampai detik ini masih harus mengontrol tiga kali setiap minggu paska operasi satu bulan yang lalu.  Ibu dari Abdul Hanam, Amnah saat berkunjung ke Kantor DASI rabu 25 oktober 2017 menuturkan bahwa kondisi anaknya yang masih perlu perawatan intensip dari dokter spesialis kulit yang ada di kota Mataram.  Karena keadaan kondisi ekonomi kurang mampu,Amnah rela menjual ayam ternaknya demi pergi mengontrol ke Mataram tuturnya.  DASI Loteng yang memang menjadi garda terdepan membantu pengobatan Abdul Hanam sejak pertama kali terus membantu mencarikan dana dan donatur yang rela membantu demi kesembuhan Abdul Hanam. Mari kita sama-sama membantu demi meringankan beban saudara kita. Bisa donasi langsung ke kantor DASI di Jalan Untung Seropati Kampung Jawa Praya Loteng. CP 085339957129. (SR)
TGH. Ruslan Gunawan,LC Direktur Dhiaul Fikri 
Bangunan Ponpes Dhiaul Fikri Sekarang 
 SUARAREVOLUSI-Lembaga pendidikan menjadi salah kebutuhan pokok manusia saat ini dalam mendidik generasi penerus bangsa yang cerdas dan beriman. Banyak lembaga pendidikan yang memberikan berbagai macam program dalam mendidik dan mengajarkan anak didik seperti tahfidz, tahsin, pidato tiga bahasa, dll.

Sekolah agama saat ini sedang naik daun khususnya bagi para orang tua yang menginginkan anak-anaknya lebih paham dan konsen belajar agama. Tidak heran banyak bermunculan sekolah yang berbasis agama seperti SDIT,SMPIT dan SMAIT di NTB saat ini. Boarding  school (mondok bagi santri) merupakan salah satu ciri khas dari sekolah ini dalam mendidik semua santrinya. Banyak boarding school yang ada di NTB sudah meluluskan santri-santrinya yang berprestasi baik nasional maupun internasional.

Dhiaul Fikri Islamic Boarding School Lombok Timur merupakan salah satu dari sekian banyak sekolah  yang bisa mencetak santri-santrinya menjadi manusia yang berguna bagi nusa bangsa dan agama. Dhiaul Fikri Islamic Boarding School terbilang sangat cepat berkembang dari segi pembangunannya. Bangunan yang megah nan asri yang berada di bawah bukit serta jauh dari area pemukiman warga setempat sehingga membuat suasana belajar dan mengajar menjadi lebih santai,tenang dan fokus dalam menimba ilmu.

Pembangunan yang ada di Dhiaul Fikri Islamic Boarding School saat ini tidak lepas dari tangan dingin sang Tuan Guru Muda Ruslan Gunawan,LC yang totalitas berjuang demi cita-cita mulia membangun peradaban melalui sektor pendidikan. Peran kepemimpinan serta kontribusi Tuan Guru Ruslan Gunawan,LC dalam merubah wajah pembangunan Dhiaul Fikri Islamic Boarding school saat ini  sangat fundamental. Benar kata pepatah yang mengatakan “Jika sekumpulan kambing dipimpin seekor serigala, maka kambing  akan meraung. Akan tetapi sekumpulan serigala dipimpin seekor kambing, maka sekumpulan serigala otomatis akan mengembek”.Seorang pemimpin menjadi perkara yang sangat vital dalam membangun sebuah peradaban. Ketika pemimpinnya hebat maka berpengaruh besar terhadap apa yang dipimpinnya.(SR01)
Fahri Hamzah (KOMPAS/PRIYOMBODO)
SUARAREVOLUSI-   Aku,
Seperti luka yang tercecer di langit perasaan mu... takkan sanggup sepenuhnya pergi... hanya menjelma menjadi mimpi...

Sesekali datang dengan wajah sepi,
Sesekali membawa api...
Dan kau terbangun meratapi misteri... apa makna api dalam mimpimu?

Sudahkah kau terbangun?
Dan puing kata-kata yang tercecer kembali adalah sarapan pagi dariku... roti lapis pertanda cinta...

Aku adalah kerusuhan,
Aku adalah aksi jalanan,
Aku adalah massa....
Aku adalah orang-orang di pelataran khayalan antara tidur dan mimpi...

Namaku teroris,
Keberanian yang mengancam dalam khayalanmu yang kelam... yang kau buat dan menghilang...

Mengapa kau tak pernah bertanya namaku...
Mengapa kau yang memberiku nama...
Mengapa aku tak punya hak memperkenalkan diri..

Aku adalah revolusi...
Aku adalah bendera pasukan berani mati...
Darahku adalah tinta...
Persetan aku akan memberi namaku sendiri...

Aku ada dalam tabir kemarahan orang-orang yang kau lukai sepenuh hati... aku mengobati lirih rintih pengungsi...

Aku,
Seperti awan menjelang hujan,
Yang mengendap turun menjelang senja... kelam... dan aku punya banyak nama... di antaranya adalah cinta...

Twitter @Fahrihamzah
23-24/10/2017
TGH.RUSLAN GUNAWAN,LC
SUARAREVOLUSI-1.Sistem dan Metode Pendidikan Al-Azhar. 
Pada mulanya pengajaran di Universitas al-Azhar sama dengan institusi pen-didikan yang lain, yaitu sistem halaqah(melingkar).
2.Seorang pelajar bebas memilih guru dan pindah sesuai dengan kemauannya.
3.Umumnya guru atau syaikh yang mengajar itu duduk bersama para pelajar, tetapi guru kadang-kadang duduk di kursi ketika menerangkan kitab yang diajarkannya.
4.Di samping itu, metode diskusi sangat dikembangkan sebagai metode dalam proses pembelajaran antarpelajar.
5.Seorang guru hanya berperan sebagai fasilitator dan memberikan penajaman dari materi yang didiskusikan
6.Al-Azhar merupakan univertas Islam tertua di Dunia, yang sampai saat ini masih menggunakan sistem kalsik 
7.Al-Azhar menerapkan sistem pendidikan dengan jenjang empat tahun.
8.Yang mana dalam setiap pertemuannya tidak menggunakan sistem absen.
9.Dimana hal tersebut memiliki filosofi yang luar biasa yaitu bahwasanya seorang mahasiswa itu harus lebih mengutamakan ilmu yang didapatkannya,
10.Bukan sekedar datang absen saja tanpa ilmu yang didapat. Dalam menyelesaikan administrasi pun Al-Azhar masih menggunakan sistem manual,
11.Dimana hal tersebut dapat melatih kesabaran mahasiswa.
12.Al-Azhar pun terkenal dengan sistem sanad (riwayat), di mana seorang mahasiswa mengambil sebuah ilmu langsung dari gurunya
13.Dengan bertatap muka dan tentunya para murid pun diuji seberapa jauh ia menguasi ilmu tersebut.
14.Sistem ini ternyata sudah ada semenjak Rasulullah SAW dan dipraktikkan oleh para Sahabat dan ulama sesudahnya.
15. Sistem sanad ini pulalah yang menjadikan kelimuan Islam tetap terjaga dari masa ke masa.
16.Selain dibangku kuliah, para mahasiswa Al-Azhar juga banyak menimba ilmu melalui halaqah-halaqah yang diadakan di masjid Al-Azhar.
17.Al-Azhar megajarkan mahasiswanya untuk bersifat sederhana, hal ini dpat dilihat dari ruang kuliahnya yang masih menggunakan meja dan bangku panjang yang diduduki 5-7 orang.
18.Saat perkuliahan pun mahasiswa bebas bertanya apapun kepada dosen bahkan sampai keluar ruanganpun mereka masih dizinkan untuk bertama,
19.Hingga mereka paham betul dengan ilmu yang didapatnya
20.Al-Azhar menggunakan sistem paket, jadi nilai mata kuliah yang diujikan ketika semester ganjil dan genap disatuka.
21.Bagi mereka yang membawa lebih dari dua mata kuliah, akan mengulang selama setahun di kelas yang sama dengan mata kuliah yang ia bawa.
22.Sedangkan mereka yang membawa satu atau dua mata kuliah, ia tetap naik kelas dan hanya diuji ulang mata pelajaran tersebut tanpa mengulang satu tahun di kelas yang sama.
23.Di sinilah terlihat ketatnya sistem ujian dan penialan di al-Azhar. Hal ini tidak lain karena al-Azhar ingin mengajarkan kepada para mahasiwanya sebuah kesungguhan dalam belajar dan mencari ilmu.

Tujuan Universitas Al-Azhar
Adapun tujuan Universitas al-Azhar adalah:

24.Mengemukakan kebenaran dan pengaruh turas Islam terhadap kemajuan umat manusia dan jaminannya terhadap kebahagiaannya di dunia dan akhirat;
25.Memberikan perhatian penuh terhadap ke-bangkitan turas ilmu, pemikiran, dan keruhanian bangsa Arab Islam;
26. Menyuplai dunia Islam dengan ulama-ulama aktif yang beriman, percaya terhadap diri sendiri, mempunyai keteguhan mental dan ilmu yang mendalam tentang akidah, syariah, dan bahasa al-Quran;
27. Mencetak ilmuwan agama yang aktif dalam semua bentuk ke-giatan, karya, kepemimpinan dan menjadi contoh yang baik, serta mencetak ilmuwan dari berbagai ilmu pengetahuan yang sanggup aktif dalam dakwah Islam yang di-pimpin dengan hikmat kebijaksanaan dan pelajaran yang baik di luar dan di dalam Republik Arab Mesir;
28. Meningkatkan hubungan kebudayaan dan ilmiah dengan universitas dan lembaga ilmiah Islam di luar negeri

Peranan Al-Azhar dalam mencetak Ulama

29.Al-azhar sebagai lembaga pendidikan saat ini telah banyak melahirkan ulama yang tidak diragukan lagi dari aspek keilmuannya,
30.dan telah banyak menyumbangkan khasanah ilmu pengetahuan terutama keIslaman, baik dari Mesir maupun Ulama yang berasal dari daerah lainnya.
31.Diantara mereka ialah Izauddin bin Abdissalam, Imam Subkhi Jallaludin As- Suyuti, Al Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqolani,
32.dan karya monumental dari para ulama tersebut masih dapat dipelajari dan disaksikan sampai sekarang ini.
Bersambunt ke part V.....
SUARAREVOLUSI-Many leads to Rome (banyak jalan menuju Roma) merupakan salah satu istilah yang tidak asing lagi ditelinga yang menunjukkan bahwa begitu banyak cara dalam menggapai sebuah impian atau tujuan. Istilah ini sangat tepat digambarkan oleh Direktur Dhiaul Fikri Islamic Boarding School TGH. Ruslan Gunawan,LC dalam mendidik dan mengajarkan semua santrinya. Biasanya  dunia santri identik dengan mengaji di masjid atau di pondok mendengar ceramah para ustad atau tuan guru setempat, akan tetapi di Dhiaul Fikri Islamic Boarding School Lombok Timur memberikan warna yang berbeda dalam memberi pengalaman dalam hal belajar. Menurut Direktur Dhiaul Fikri Islamic Boarding School TGH. Ruslan Gunawan,LC belajar tidak harus didalam masjid dan sekolah saja karena kita sudah memasuki era milenial yang menuntut kita semua dalam berenovasi serta kreatif dalam segala hal sehingga nantinya akan mampu bersaing secara kompetitip dengan kompetitor yang lainnya. Semua santri Dhiaul Fikri diajak nonton filem bareng yang penuh nilai daqwah dan inspirasi di Mall Epicentrum Mataram yang bertepatan dengan peringatan hari santri nasional tanggal 22 oktober 2017.(SR01)
Marzuki Wardi,S.Pd
SUARAREVOLUSI-Dalam suatu kesempatan, saya pernah berkunjung ke beberapa objek wisata yang terdapat di pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Yang akan saya ceritakan ini adalah bukan panoramanya, jumlah pengunjung, pelayanan, ataupun kenyamanan berwisata di tempat-tempat tersebut. Karena hal-hal semacam itu tak perlu diragukan lagi. Akan tetapi, yang saya maksud ini adalah atmosfir lingkungan yang terdapat di sana, di mana dominasi bahasa Inggris yang demikian terasa. Mulai dari papan nama tempat wisata, nama rumah makan, menu masakan, petunjuk arah, hingga buku panduan wisata, yang terkesan sangat kental dengan istilah asing atau bahasa Inggris.

Saya berpikir, kalau terus-menerus seperti ini, kapan bahasa Indonesia akan mampu bersaing menjadi bahasa internasional? Jikapun penggunaan-penggunaan istilah tersebut ditujukan agar memudahkan wisatawan mancanegara (wisman), lalu untuk apa mereka berkunjung jauh-jauh bila suasana yang mereka temukan justru persis seperti di kampung halaman mereka?

Artinya, saya bukan berarti anti terhadap bahasa Inggris. Karena memang kita tidak bisa pungkiri peranannya sebagai bahasa Internasional saat ini. Namun hal ini menunjukkan masih belum siapnya mental kita untuk mengomunikasikan budaya kita menggunakan bahasa Indonesia ke masyarakat internasional. Dengan kata lain, kita masih belum percaya diri untuk bersanding di panggung rivalitas global.

Sektor pariwisata, yang berperan mengantarai interkasi verbal antara masyarakat dengan para wisman, pada dasarnya memiliki potensi besar menjadi bagian dalam upaya internasionalisasi bahasa Indonesia. Mengingat, para wisman tersebut dapat secara langsung menyaksikan budaya yang kita miliki. Bahkan, salah faktor ketertarikan mereka disamping keindahan alam adalah keunikan dan keragaman budaya kita. Terlebih, branding Wisata Halal Dunia (World Halal Tourism) yang diraih beberapa objek wisata NTB di Abu Dhabi tahun lalu, bisa menjadi daya tarik dalam peningkatan jumlah wisman. Lantas apalagi yang kita ragukan?

Untuk mendukung agenda besar tersebut, gagasan yang perlu dikemukakan saat ini adalah bagaimana membekali anak bangsa dengan fondasi kultural yang kuat, dan merancang sebuah strategi kebudayaan melalui sektor pariwisata, yang tentunya dengan misi internasionalisasi bahasa Indonesia.

Revitalisasi kearifan (budaya) lokal

Hampir semua daerah di NTB memiliki kearifan (budaya) lokal yang menarik di mata masyarakat internasional. Dalam masyarakat Sasak misalnya. Kehidupan sehari-hari mereka tidak terlepas dari praktik-praktik sosial seperti berolem, betabeq, bebase, saling tulung, dan sebagainya. Demikian juga dengan masyarakat Mbojo. Mereka punya rimpu, rawi rasa, cafi sari , dan beragam tradisi lainnya.
Sayangnya, seiring perkembangan teknologi dan informasi saat ini, tradisi-tradisi dimaksud tampak semakin memudar. Sebut saja tradisi berolem pada masyarakat Sasak. Tradisi ini sebenarnya selain menunjukkan semangat kekeluargaan, juga mencerminkan tingginya penghormatan masyarakat Sasak atas tamu yang akan menghadiri acara tertentu. Namun, kehadiran teknologi handphone (HP) telah mengganti peranan tradisi ini dalam tatanan masyarakat.—meskipun tidak sepenuhnya. Tradisi ngayo (silaturrahmi ke tetangga) misalnya, juga telah terwakili dengan kehadiran media sosial.

Pengaburan nilai-nilai kearifan (budaya) lokal ini tentu menjadi ancaman yang cukup serius. Generasi penerus bisa jadi kehilangan identitas budayanya sendiri. Karena itu, perlu adanya upaya revitalisasi budaya yang dapat dilakukan dengan menghidupkan kembali pelajaran budaya lokal di sekolah, menuangkan wawasan budaya lokal dalam bentuk karya tulis, pagelaran festival atau pameran budaya, dan cara-cara lain yang dapat melestarikan budaya lokal. 

Maka, revitalisasi kearifan (budaya) lokal dalam hal ini dimaksudkan untuk menyegarkan, memberdayakan dan membekali anak bangsa dengan kekayaan budayanya sendiri, dan kesadaran yang kritis untuk mengenali, mencintai dan membangun budaya sendiri sejak dini.
Pendidikan bahasa yang lebih visioner
Salah satu dampak yang kemungkinan muncul dari pemberdayaan budaya di atas adalah primordialisme. Tapi, hal ini bukanlah sebuah ancaman serius. Kebinekaan tidak akan terurai hanya karena soal primordialisme. Bahasa Indonesia masih dapat dijadikan sebagai magnet perekat bangsa. Jadi, pertanyaannya adalah, bagaimana mengomunikasikan budaya yang sudah terbentuk di atas dengan budaya asing?

Mau tidak mau, untuk mengejawantahkan tawar menawar budaya, bahasa asing memang harus dipelajari. Dalam hal ini bahasa Inggris sebagai bahasa Internasional. Tidaklah mungkin interakasi kultural tersebut akan berlansung tanpa perantara media komunikasi. Namun, selama ini bahasa Inggris cenderung dipelajari hanya karena adanya tuntutan dari isntitusi pendidikan (sekolah), dunia kerja, atau sebatas keperluan untuk memenuhi syarat melamar pekerjaan saja. Mentok sampai di sana. Sangat jarang kemudian kita temukan seseorang belajar bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya dengan tujuan lebih dari sekedar memenuhi tuntutan tersebut. Misalnya, mengenalkan atau mengajari bahasa Indonesia kepada para wisman.

Selain karena sudah diserahkan ke lembaga penyelenggara kursus Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Asing (BIPA), kondisi ini menunjukkan kesadaran komparatif masyarakat kita masih sangat rendah. Karenanya, meminjam istilah Profesor Alwasilah, pendidikan bahasa dewasa ini harus mengusung visi “Keunggulan Komparatif”.

Orientasi pendidikan bahasa sudah seyogiyanya tak sekedar membentuk keterampilan dan kecakapan berbahasa asing semata, tapi juga lebih kepada membangun kesadaran generasi bangsa untuk mengomunikasikan budayanya sendiri ke khalayak internasional. Saya memiliki mimpi besar ke depan, dari visi ini terlahirlah kemudian kurikulum, khususnya dalam hal ini bahasa Indonesia, yang mengakomodir pelajaran muatan (budaya) lokal bagi penutur asing. Ini cukup prospektif mengingat semakin terbuka lebarnya interaksi sosial antar bangsa sebagaimana yang telah saya utarakan sebelumnya. Peningkatan jumlah wisatawan asing dari tahun ke tahun setidaknya jadi satu contoh.

Maka, apa yang saya maksud mengenai pariwisata, kearifan (budaya) lokal dan pendidikan bahasa, jika dipandang secara holistik, merupakan sebuah strategi kebudayaan dalam meng-internasionalisasikan bahasa Indonesia. Pariwisata merupakan gerbang yang cukup potensial menuju panggung rivalitas global. Bahasa Indonesia sebagai jembatan penghubung yang mengomunikasikan kearifan-kearifan (budaya) lokal dengan budaya asing. Dengan begitu, khazanah kebinekaan akan memenuhi ruang kebangsaan. Kemudian, di mata internasional, patutlah kemudian Indonesia dikenal sebagai bangsa yang memiliki kekuatan dan kekayaan budaya.

Jika seorang guru besar bahasa Indonesia berkebangsaan Jerman, Profesor Berthold Damshauser, sangat yakin akan peluang bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional karena kekayaan budaya dan keluhuran budi penuturnya, lantas kenapa kita tidak percaya diri?Lombok Tengah, 22 Oktober 2017***

Acara Sumbawa Berhizib yang diselenggarakan oleh Pengurus Daerah (PD) NW Sumbawa dihadiri oleh ribuan jemaah dari berbagai penjuru di Kabupaten Sumbawa. Acara yang digelar pada Minggu malam (22/10/2017) ini mengangkat tema, “Menuju Sumbawa Hebat dan Bermartabat”. Turut hadir Calon Gubernur NTB 2018, Dr. H. Zulkieflimansyah, Pengurus Besar (PB) NW, Bupati dan Wakil Bupati Sumbawa. Dalam sambutannya, Doktor Zul menyampaikan bahwa ia bukan orang baru di NW. Ia bahkan pernah menjadi salah satu ketua pengurus besar NW yang membidangi urusan luar negeri.

Menurutnya, keberhasilan NW tidak dilihat dari seberapa banyak kadernya yang menempati jabatan strategis di NTB. Bukan pula diukur dari banyaknya lembaga pendidikan yang dibangun. NW hadir untuk memperbaharui mental umat. NW hadir untuk memperbaharui ruh umat agar keimanan dan ketakwaannya tertancap dalam benak umat Islam. Ia mengajak ribuat jemaah yang hadir untuk mulai menularkan kebaikan-kebaikan, mulai menyebarkan kebiasaan baik, menyuarakan kalimat-kalimat Allah mulai dari Kabupaten Sumbawa; ke seluruh kecamatan, ke semua desa dan dusun, ke setiap masjid, hinga ke berbagai penjuru dunia. Ia berharap, acara Sumbawa Berhizib dapat menjadi pemicu mewujudkan Sumbawa yang Hebat dan Bermartabat.

Berikut isi sambutan Doktor Zul:      
              
“…Seperti dikemukakkan oleh pak ketua tadi, saya di NW itu bukan orang baru. Sebenarnya, bukan karena mau ada Pilkada Gubernur terus pak doktor ujub-ujub jadi orang NW. Kepengurusan yang lama bahkan saya salah satu ketua NW di PB yang bertanggung jawab untuk urusan luar negeri. Oleh karena itu, mudah-mudahan malam ini menjadi pemicu utama supaya kiprah kita dalam masyarakat mewujudkan Sumbawa Hebat dan Bermartabat bukan hanya impian tapi menjadi kenyataan.

NW itu hadir untuk memperbaharui mental umat ini. NW hadir bukan supaya kadernya jadi gubernur, NW hadir bukan supaya kadernya jadi bupati, wakil bupati bahkan presiden di republik yang kita cintai ini. Keberhasilan NW itu, bukan terletak pada banyaknya posisi yang kita miliki di pemerintahan. Keberhasilan NW itu, bukan terletak pada banyaknya pondok-pondok kita yang bertebaran, bukan hanya di Kabupaten Sumbawa, bukan hanya di Provinsi Nusa Tenggara Barat, bukan hanya di negeri kita yang namanya Republik Indonesia ini, tapi sebenarnya kehadiran NW yang utama itu bagaimana kehadiran kita betul-betul menjadi ruh baru buat umat ini. Karena oleh pendiri NW, itu yang dicita-citakan. NW hadir untuk memperbaharui ruh umat ini sehingga menjadi umat yang iman, taqwa, tertancap dalam benak umat islam itu.


Oleh karena itu, saya kira acara malam ini luar biasa menjadi saksi besar buat kita. Mudah-mudahan kita berdoa menyenandungkan kalimat-kalimat Allah yang sangat mulia, betul-betul kita mulai dari Kabupaten Sumbawa, untuk kemudian kita getarkan doa-doa kita yang baru kita lantunkan itu ke seluruh kecamatan. Kita tularkan kebiasaan mulia ini, ke seluruh desa-desa, ke seluruh dusun-dusun, ke setiap masjid kita, ke setiap keluarga, bahkan membuncah, menggelora ke semua dada umat Islam di berbagai tempat di dunia ini. Oleh karena itu, saya bersyukur sekali menjadi saksi sejarah malam ini, PERJALANAN PANJANG SELALU DIMULAI DENGAN LANGKAH PERTAMA”.    


SUARAREVOLUSI-Program Bedah Bale Swadaya (BBS) merupakan salah satu program unggulan LAZ DASI NTB yang menargetkan terbangunnya 1.000 Unit Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di wilayah NTB. Sampai saat ini di penghujung tahun 2017, Alhamdulillah sudah terbangun hampir sekitar 100-an Unit rumah masyarakat yang masuk kategori Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) berhasil dibedah oleh Tim LAZ DASI NTB.

Program ini dapat terlaksana atas kerjasama semua pihak baik pemerintah, perusahaan maupun perseorangan yang telah mengamanahkan dengan mendonasikan sebagian harta dari rizki yang Alloh karuniakan kepada para donatur LAZ DASI NTB. Program Bedah Bale Swadaya (BBS) yang saat ini sedang dibantu LAZ DASI Loteng adalah Inaq Hasnah yang berdomisili di Pancor Dao Lombok Tengah. Pembangunan rumah layak huni merupakan donasi dari pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Cabang Mataram yang berhasil terhimpun. Akhirnya, atas kerjasama yang baik antara OJK Cab. Mataram dengan LAZ DASI NTB berhasil meneruskan menuju pencapain target pembangunan rumah tidak layak huni masyarakat menuju rumah yang layak huni.

Melalui kesempatan ini LAZ DASI NTB Cabang Lombok Tengah  mengajak kita semua untuk terus membangun sinergi kebaikan untuk mengentaskan permasalahan Kaum Dhuafa di Bumi Gora Tercinta.Teruntuk para donatur disampaikan banyak terima kasih, atas amanah yang telah dititipkan untuk disampaikan kepada mustahik penerima manfaat dari semua program pemberdayaan, baik yang sifatnya harian, mingguan, bulanan, maupun tahunan. (SR01)

TGH.RUSLAN GUNAWAN,LC
SUARAREVOLUSI-1.*Masa Dinasti Ayyubi*Setelah Sholahuddin Al-Ayyubi menguasai Mesir dan menjatuhkan dinasti Fatimiyyah, kegiatan keilmuan di al-Azhar harus terhenti.
2.Karena Sholahuddin al-Ayyubi adalah penganut faham Sunni, ia menutup al-Azhar baik untuk shalat jumat maupun sebagai universitas.
3.Al-Azhar tidak lagi menjadi penyelenggara pendidikan islam yang membanggakan.
4.Kendati al-Azhar ditutup sebagai lembaga pendidikan, perkuliahan beralih ke madrasah-madrasah dan lembaga kuliah setingkat universitas, yang jumlahnya hinga mencapai 25 lembaga di Kairo.
5.Al-Azhar juga sering mendapat kunjungan ulama-ulama terkenal yang juga memberikan kuliah. Pada tahun 589 H Abd Latif al_baghdadi berkunjung ke Mesir,
6.Pada masa al-Malik al-Aziz Imad al-Din Utsman anak Sholah al-Din. Pada kunjungannya ini ia sempat mengajar mantiq dan al-Bayyan di al-Azhar.
7.Setelah Daulah Fatimiyah jatuh ke tangan Shalahuddin al- ayyubi pada tahun 567 H (1171 M), maka ia mengambil kebijakan baru untuk menghilangkan aliran Syi’ah yang telah tumbuh dan berkembang sekian lama.
8.Terutama melalui sarana al-Azhar untuk digantinya dengan aliran Sunni. Beberapa peristiwa penting yang terjadi pada masa Sholahuddin adalah:
9.a.Pembekuan kegiatan khutbah di al-Azhar selama hampir seratus tahun sampai masa Sultan al-Mamluki al-Dzahir pada tahun 665 H/1226 M.
10.b. Melakukan renovasi pembangunan al-Azhar oleh Amir Edmir dan Sultan Berbes atau Sultan al-Dzohir Berbes.
11.c.Al-Azhar menjadi pusat studi islam yang amat penting, terutama ketika Kairo menjadi kiblat para ulama, fuqaha, dan mahasiswa.
12.*Masa Dinasti Mamalik*
Pada masa ini terjadi serbuan besar-besaran dari bangsa Mongol ke timur dan jatuhnya islam di barat, sehingga banyak para ulama dan ilmuan yang mencari perlindungan ke al-Azhar.
13.Hal ini menyebabkan posisi al-Azhar menjadi penting. Sejak saat itu banyak pelajar dan negara-negara islam yang tertarik menjadi mahasiswa dan belajar di al-Azhar.
14.Terhitung 98 tahun sejak al-Azhar ditutup, sejak masa Sholahuddin al-Ayyubi sampai 17 tahun dari pemerintahan dinasti Mamalik.
15.Pada tahun 665 H seorang amir yang tinggal tidak jauh dari al-Azhar mengajukan usul kepada Sultan al-Zahir Baibars untuk membuka al-Azhar kembali sebagai tempat untuk shalat jumat.
16.usulan itupun diterima dan sejak saat itu ia dan amir mengeluarkan uang sendiri untuk memperbaiki al-Azhar.
17.Semenjak saat itu pula al-Azhar sering dikunjungi oleh ulama-ulama terkenal dari berbagai daerah untuk 
belajar dan mengajar,

18.Seperti Ibn Khaldun, Abu al-‘Abbas Ahmad al-Qalqasyandi (w. 821 H/1418 M) dan Jalal al-Din al-Suyuthi (w.911 H/1505 M).
19.Sejak dibuka kembali sebagai tempat shalat jumat dan tempat kegiatan keilmuan, al-Azhar yang dulunya beraliran faham Syi’ah sekarang berubah menjadi Faham Sunni.
20.Pada masa ini, kebijakan dan perhatian pemerintah terhadap al-Azhar sangat kondusif untuk pengembangan al-Azhar sebagai sebuah perguruan tinggi.
21.Diantaranya adalah al-Azhar banyak mendapat wakaf dari para sultan dan umara yang tujuannya adalah untuk membantu dan memelihara kemasyhuran ilmu pengetahuan di al-Azhar
22.Dan untuk kelanjutan al-Azhar sebagai pusat pergerakan ilmu pengetahuan di Mesir dan dunia islam. Harta wakaf al-Azhar sampai saat ini masih digunakan untuk membayar gaji para dosen dan karyawannya, baik untuk warga Mesir sendiri maupun warga negara asing,
23.Juga digunakan untuk membiayai pembangunan asrama pelajar dan mahasiswa.
24.Pada masa dinasti Mamalik, sistem pembelajaran di al-Azhar adalah para mahasiswa diberi kebebasan dalam memilih mata kuliah yang dipelajarinya, sesuai dengan disiplin ilmu yang dikuasai oleh masing-masing dosen.
25.Setelah mahasiswa dapat menguasai disiplin ilmu yang diberikan oleh seorang dosen, maka ia dipersilahkan untuk memilih dosen yang lain untuk mempelajari matax kuliah yang berbeda.
26.Setelah mahasiswa yang sudah meyelesaikan kuliahnya kepada seorang dosen, maka ia akan diberi Syahadah (ijazah).
27.Ketika Mesir hilang kedaulatannya tahun 922 H/1517 M, pendidikan dan pengajaran mengalami kemunduran di al-Azhar khususnya dan madrasah-madrasah lainnya.
28.Pada masa itu ilmu yang diajarkan hanya bahasa arab dan ilmu-ilmu agama saja, sedangkan ilmu aqliyah, seperti filsafat, ilmu bumi, ilmu pasti tidak ada dan dianggap haram hukumnya.
29.Kendati demikian bukan berarti tidak ada seorangpun yang belajar dan mengajarkan ilmu aqliyah,
30.tetapi dengan kemauan sendiri, seperti Syaikh Abdul Mun’im Damanhuri (w. 1192 H/1778 M) dalam ijazahnya disebutkan ilmu yang telah dipelajarinya meliputi al-Jabar, ilmu falak, ilmu kesehatan dll.
bersambung ke part IV...

H. Supli,SH dari Partai PKS Saat menyampaikan Materi 

SUARAREVOLUSI-Kunjungan pelaporan hasil kerja atau yang biasa disebut reses para dewan merupakan salah satu kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap wakil rakyat. Salah satu dewan dari partai Keadilan Sejahtera (PKS) H. Supli,SH menyambangi para konstituennya di dusun Pondok Songkar Desa Aikmual sabtu malam mingggu 21 oktober 2017. Kunjungan atau silaturrahmi ini diinisiasi oleh kelompok pemuda yang ada di dusun Pondok Songkar yang tergabung dalam Gerakan Pemuda Islam Desa (GPID). Dalam sambutan silaturrahmi atau reses tersebut ketua GPID Muhammad Saleh menyampaikan aspirasi dengan mendorong para pemuda untuk ikut andil dalam pembangunan yang ada di desa dengan cara semua proyek atau program baik yang berasal dari desa,kabupaten, provinsi bahkan pusat sama-sama mengawasi dan mendukung semua program untuk kemaslahatan masyarakat tuturnya.


Dalam diskusi dan silaturrhami bersama masyarakat H. Supli,SH menyampaikan tugas dan kewajiban para anggota dewan seperti budgeting, controling dan legislasi. H. Supli,SH lebih banyak memaparkan tentang fungsi legislasi yang memang menjadi bidangnya ungkapnya. Lebih lanjut ia memaparkan saat ini sedang merancang perda (peraturan daerah) tentang pengelolaan zakat, potensi zakat bisa mencapai 48 milyar pertahun kalau memang dikelola dengan baik dan tepat . Selain itu juga ada perda tentang kemakmuran masjid dan perda perlindungan TKI melalui pengurusan dokumen satu pintu yang ada di Lombok Tengah yang tidak perlu lagi harus ke Mataram tambhanya.  Luarbiasa antusias masyarakat saat mendengar pemaparan yang santai dan mengena tentang tugas dan kewajiban para anggota dewan yang selama ini di dusun Pondok Songkar belum pernah didatangi anggota dewan dalam kegiatan reses.(SR01) 
TGH. Ruslan Gunawan dan Penulis Terkenal Indonesia 

SUARAREVOLUSI-1) Masa Dinasti Fatimiyyah Al-Azhar pada masa dinasti Fatimiyyah dijadikan sebagai alat propaganda kekuasaan khalifah dan sebagai alat penyebaran doktrin faham Syi’ah.
2.Pada masa ini pula sistem pengajaran terbagi menjadi empat kelas.
3.Pertama, kelas umum diperuntukkan bagi orang yang datang ke al-Azhar untuk mempelajari al-Qur’an dan penafsirannya.
4.Kedua, kelas para mahasiswa universitas al-Azhar kuliah dengan para dosen yang ditandai dengan mengajukan pertanyaan dan mengkaji jawabannya.
5.Ketiga, kelas Darul hikam, kuliah formal ini diberikan oleh para mubalig seminggu sekali pada hari senin yang dibuka untuk umum dan pada hari kamis dibuka khusus untuk mahasiswa pilihan.
6.Keempat, kelas nonformal, yaitu kelas untuk pelajar wanita.
7.Mahasiswa yang belajar di al-Azhar dilarang mempelajari mazhab selain Syi’ah.
8.Sedemikian ketatnya, sampai ada mahasiswa yang dipenjara karena menyimpan kitab Al-Muwattho’ karya monumental Imam Malik
9.Pada masa khalifah Al-Aziz Billah, 378 H dengan usaha wazirnya Yakub ibn Kills, yang menyelenggarakan kuliah umum di al-Azhar yang diikuti oleh peminat yang sangat banyak.
10.Kegiatan inilah yang dianggap sebagai awal lahirnya sistem pedidikan tinggi di al-Azhar
11.Karena hal inilah al-Azhar dijadikan sebagai Universitas Islam yang mengajarkan ilmu-ilmu agama, ilmu logika, dan ilmu umum lainnya.
12.Untuk menunjang kegiatan pendidikan dan pengajaran, al-Azhar dilengkapi dengan asrama untuk para fuqaha (dosen, tenaga pendidik)
13.serta semua urusan dan kebutuhannya ditanggung oleh khalifah.
14.Adapun ilmu agama yang diajarkan meliputi: ilmu tafsir, qiraat, hadits, fiqih, nahwu, sharaf, dan sastra.
15.Sedangkan ilmu-ilmu umum yang dipelajari ialah: filsafat, ilmu falak, ilmu ukur, musik kedokteran, kimia, dan sejarah , serta ilmu bumi
16.Diantara para ulama yang turut belajar pada masa itu antara lain: Hasan ibn Ibrahim atau yang lebih dikenal Ibnu Zulaq, al-Amir al-Mukhtar ‘Izzul Mulk Muhammad bin Abdullah, Abu Abdillah al-Qudha’i, Abi Ali Muhammad bin al-Hasanbin al-Haitsam.
Bersambung ke Part III....